La littérature en question
Le XXe siècleSejarah Sastra
Trauma Perang dan Runtuhnya Nilai Lama
Abad ke-20 dalam sejarah sastra Prancis kerap dipahami sebagai masa ketika sastra mempertanyakan ulang dirinya sendiri. Periode ini dibuka oleh trauma besar akibat dua perang dunia yang meruntuhkan keyakinan pada kemajuan peradaban Barat. Perang Dunia I, dengan korban jiwa yang sangat besar, mengguncang kepercayaan terhadap nilai-nilai borjuis tradisional yang sebelumnya dianggap mapan, namun terbukti gagal mencegah kekerasan dan kehancuran.
Dari situ lahir gerakan avant-garde yang bersifat radikal, seperti Dadaisme dan Surealisme yang dipelopori oleh André Breton. Gerakan-gerakan ini menolak logika rasional yang dianggap telah kehilangan makna, lalu mencari bentuk kebenaran lain melalui kebebasan asosiasi, mimpi, dan ketidaksadaran. Semangat pendobrakan ini dapat dipahami melalui pengalaman sastra Indonesia pada masa krisis, ketika penyair seperti Chairil Anwar melepaskan diri dari bentuk lama yang dianggap tidak lagi mampu menampung kegelisahan zaman. Dalam situasi genting, sastra tidak lagi berusaha menenangkan, melainkan mengguncang dan memaksa manusia menatap kenyataan secara lebih jujur.
Sastra Terlibat (Littérature Engagée) dan Eksistensialisme
Pasca Perang Dunia II, sastra Prancis memasuki fase refleksi yang serius. Penulis tidak lagi dipandang cukup hanya sebagai penghibur, melainkan dituntut untuk mengambil sikap. Dari konteks inilah muncul gagasan littérature engagée, sastra yang terlibat langsung dalam persoalan sosial dan politik, sebagaimana dirumuskan oleh Jean-Paul Sartre. Sastra dipahami sebagai ruang tanggung jawab, tempat penulis menyatakan posisi etisnya terhadap dunia.
Dalam kerangka ini, penulis seperti Albert Camus bergulat dengan gagasan l’absurde, yaitu pengalaman manusia yang merasa terasing dalam dunia yang tidak menawarkan makna pasti. Bersamaan dengan itu berkembang pemikiran l’existentialisme, yang menegaskan bahwa manusia tidak bisa berlindung di balik nasib atau sistem, melainkan bertanggung jawab penuh atas pilihan dan tindakannya sendiri.
Situasi ini mudah dipahami melalui peran sastra dan intelektual pada masa-masa krisis sosial, ketika karya budaya tidak lagi netral dan penulis didorong untuk bersuara. Dalam kondisi seperti itu, sastra menjadi arena pertarungan gagasan, dan keberpihakan sosial dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari praktik penulisan.
Era Kecurigaan (L'Ère du Soupçon)
Pada paruh kedua abad ke-20, terjadi krisis kepercayaan terhadap bahasa dan bentuk narasi konvensional. Nathalie Sarraute menyebut masa ini sebagai l'ère du soupçon atau era kecurigaan. Penulis dan pembaca tidak lagi percaya bahwa novel dapat merefleksikan realitas secara utuh dan objektif seperti pada masa Balzac. Hal ini memicu lahirnya Nouveau Roman (Novel Baru) yang mendekonstruksi plot dan karakter, serta Théâtre de l'Absurde (Teater Absurd) di mana bahasa kehilangan fungsinya sebagai alat komunikasi.
Perubahan ini dapat dianalogikan dengan pergeseran dari film-film naratif konvensional menuju film eksperimental atau sinema alternatif di Indonesia, di mana alur cerita tidak lagi linier, tokohnya tidak jelas motivasinya, dan penonton dipaksa untuk berpikir keras merangkai makna sendiri, alih-alih disuapi cerita yang utuh.
Dekolonisasi dan Suara Frankofon
Sejarah sastra Prancis abad ke-20 juga berkaitan erat dengan runtuhnya imperium kolonial. Penulis dari wilayah jajahan dan bekas jajahan mulai menggunakan bahasa Prancis sebagai sarana perlawanan, bukan sebagai simbol dominasi. Melalui bahasa bekas penjajah itu sendiri, mereka menyuarakan pengalaman, luka sejarah, dan identitas yang selama ini ditekan. Fenomena ini dikenal sebagai La Francophonie, yakni praktik sastra lintas wilayah yang mengolah bahasa Prancis dari sudut pandang yang berbeda.
Tokoh seperti Aimé Césaire dan Léopold Sédar Senghor mengembangkan gagasan Négritude untuk menolak asimilasi budaya dan menegaskan martabat identitas kulit hitam. Sastra menjadi ruang untuk membalik relasi kuasa, dari yang semula didikte menjadi yang berbicara atas nama diri sendiri.
Semangat ini mudah dipahami melalui pengalaman bangsa yang menggunakan bahasa dan sastra sebagai alat pembebasan. Ketika bahasa tidak lagi dipakai untuk tunduk, melainkan untuk menyatakan jati diri dan harga diri kolektif, sastra berubah menjadi medium perjuangan kultural yang membangun kesadaran dan keberanian untuk berdiri setara.
Gerakan Sastra
Le Surréalisme: Revolusi Bawah Sadar
Gerakan Surréalisme lahir setelah Perang Dunia I sebagai penolakan terhadap nalar dan logika borjuis yang dianggap gagal mencegah kehancuran manusia. Dipimpin oleh André Breton melalui Manifeste du surréalisme, gerakan ini bertujuan membebaskan imajinasi dari kendali akal budi dengan menjelajahi l’inconscient, yaitu wilayah ketidaksadaran dan mimpi. Bagi kaum surealis, kebenaran tidak selalu lahir dari logika yang tertata, melainkan dari dorongan batin yang spontan dan tak terduga.
Untuk mencapai kebebasan tersebut, mereka mengembangkan teknik écriture automatique, yakni penulisan cepat tanpa penyaringan moral atau estetika, sehingga pikiran mengalir apa adanya. Penyair seperti Paul Éluard dan Louis Aragon meyakini bahwa pembebasan bahasa harus berjalan seiring dengan pembebasan cara hidup. Semangat ini mudah dikenali dalam praktik sastra yang membongkar kebiasaan berbahasa, ketika kata tidak lagi dibatasi makna baku, melainkan dibiarkan bergerak bebas untuk membuka kemungkinan makna baru, sebagaimana tampak dalam puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang membebaskan kata dari beban makna konvensionalnya.
L'Existentialisme: Kebebasan dan Sastra Terlibat
Pasca Perang Dunia II, pemikiran sastra dan filsafat Prancis banyak dipengaruhi oleh l’Existentialisme, dengan Jean-Paul Sartre sebagai tokoh utamanya. Gagasan pokok aliran ini dirumuskan dalam prinsip l’existence précède l’essence, yang menegaskan bahwa manusia tidak dilahirkan dengan takdir atau jati diri yang sudah ditentukan. Manusia menjadi dirinya sendiri melalui pilihan dan tindakan yang ia ambil, sehingga kebebasan selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab.
Dalam kerangka ini, sastra dipahami bukan sekadar sebagai karya estetis, melainkan sebagai littérature engagée, sastra yang terlibat dalam persoalan sosial dan politik. Penulis dipandang memiliki kewajiban moral untuk bersuara dan mengambil sikap melalui karyanya. Cara pandang ini dapat dipahami melalui situasi ketika karya seni tidak lagi dianggap netral, melainkan diharapkan ikut menanggapi ketidakadilan dan persoalan masyarakat. Dalam konteks tersebut, sastra menjadi ruang pernyataan sikap, bukan sekadar sarana pencarian keindahan.
Le Nouveau Roman: Era Kecurigaan
Pada tahun 1950-an, muncul kelompok penulis yang bernaung di penerbitan Éditions de Minuit dan dikenal sebagai Le Nouveau Roman atau Novel Baru. Penulis seperti Alain Robbe-Grillet, Nathalie Sarraute, dan Claude Simon menolak pola novel tradisional warisan Balzac yang bertumpu pada alur linier dan tokoh dengan kepribadian yang utuh. Sarraute menyebut situasi ini sebagai l’ère du soupçon, masa ketika bahasa dan narasi tidak lagi dipercaya mampu merepresentasikan realitas secara objektif.
Dalam kerangka tersebut, mereka mengusung gagasan la mort du personnage, yakni hilangnya tokoh sebagai pusat cerita. Karakter sering kali tampil tanpa identitas jelas, kadang hanya berupa sudut pandang atau pengamat atas benda dan peristiwa. Perhatian novel bergeser dari kisah hidup tokoh menuju proses penulisan itu sendiri, bagaimana cerita disusun, diulang, atau dipecah. Pendekatan ini dapat dipahami melalui pengalaman membaca karya fiksi yang tidak menawarkan alur rapi, melainkan menuntut pembaca aktif merangkai makna dari fragmen-fragmen, ketika kebingungan justru menjadi bagian dari pengalaman estetik.
Le Théâtre de l'Absurde: Tragisnya Bahasa
Sejalan dengan krisis makna di dunia modern, berkembang Le Théâtre de l’Absurde atau Teater Absurd yang dipelopori oleh Samuel Beckett dan Eugène Ionesco. Karya-karya mereka menggambarkan dunia yang kehilangan arah, di mana tindakan manusia tampak berulang dan sia-sia. Dalam En attendant Godot, misalnya, dua tokoh menghabiskan waktu dengan menunggu seseorang yang tidak pernah datang, menghadirkan gambaran tentang harapan yang terus ditunda dan tidak pernah terpenuhi.
Salah satu ciri utama gerakan ini adalah la tragédie du langage, yaitu kegagalan bahasa sebagai alat komunikasi. Dialog antartokoh sering kali tidak saling terhubung, berulang, dan terasa kosong, seperti dalam La Cantatrice chauve. Bahasa tidak lagi menyatukan, melainkan justru menegaskan keterasingan manusia. Pola ini mudah dikenali dalam pengalaman menonton pertunjukan yang terasa janggal namun mengena, ketika situasi yang tampak tidak masuk akal justru mencerminkan kekacauan hidup sehari-hari. Dalam konteks Indonesia, pendekatan semacam ini tampak pada karya-karya teater modern yang menggunakan dialog patah-patah dan situasi ganjil untuk memotret realitas sosial dengan nada getir sekaligus ironis.
Teori / Ciri Estetika
Fragmentasi dan Dekonstruksi Narasi
Estetika sastra abad ke-20 ditandai oleh penolakan tegas terhadap narasi tradisional yang linier dan koheren, sebagaimana diwariskan oleh realisme abad sebelumnya. Para penulis, terutama yang berkaitan dengan Nouveau Roman, tidak lagi mempercayai alur cerita yang rapi dan kronologis. Jean Ricardou merumuskan perubahan ini dengan menyatakan bahwa novel tidak lagi berfungsi sebagai penulisan sebuah petualangan, melainkan sebagai petualangan penulisan itu sendiri.
Dalam praktiknya, cerita disajikan dalam bentuk yang terpecah, berulang, atau bahkan saling bertentangan. Pembaca tidak lagi diarahkan mengikuti alur dari awal hingga akhir, tetapi dihadapkan pada potongan-potongan pengalaman yang harus dirangkai sendiri maknanya. Cara bercerita ini mudah dipahami melalui pengalaman menikmati karya naratif yang tidak memberikan jawaban langsung, ketika kebingungan justru menjadi bagian dari proses memahami, dan keterlibatan pembaca menjadi unsur utama dalam membangun arti sebuah karya.
Kematian Tokoh (La Mort du Personnage)
Salah satu ciri estetika paling menonjol pada pertengahan abad ke-20 adalah gagasan la mort du personnage, yaitu kematian tokoh sebagai pusat cerita. Karakter dalam novel tidak lagi memiliki identitas yang mantap, nama lengkap, atau latar psikologis yang jelas. Mereka kerap direduksi menjadi inisial, seperti tokoh “A…” dalam karya Alain Robbe-Grillet, atau hadir sebagai kesadaran anonim yang terus berubah dan sulit dipastikan.
Dalam kerangka ini, tokoh tidak lagi berfungsi sebagai pahlawan dengan watak utuh, melainkan sebagai sudut pandang yang merekam objek, ruang, atau kegelisahan batin. Identitas menjadi sesuatu yang rapuh dan terus dipertanyakan. Cara penggambaran ini dapat dipahami sebagai pergeseran dari tokoh yang jelas dan mudah dikenali menuju figur yang samar, ketika pembaca tidak lagi diajak mengikuti perjalanan karakter, melainkan menghadapi ketidakpastian tentang siapa tokoh itu sebenarnya.
Krisis Bahasa dan Incommunicabilité
Estetika sastra abad ke-20 juga mencerminkan krisis kepercayaan terhadap bahasa sebagai alat komunikasi. Dalam Théâtre de l’Absurde, dramawan seperti Eugène Ionesco menampilkan apa yang disebut la tragédie du langage. Tokoh-tokohnya berbicara terus-menerus, tetapi dialog yang muncul tidak saling terhubung, berulang, dan gagal menyampaikan makna. Bahasa tidak lagi menyatukan, melainkan menegaskan kehampaan dan keterasingan manusia.
Kondisi ini menggambarkan pengalaman kesepian di tengah keramaian, atau incommunicabilité, ketidakmampuan untuk benar-benar berkomunikasi. Situasi tersebut mudah dikenali dalam kehidupan sehari-hari, ketika orang tampak saling berbicara namun tidak sungguh-sungguh saling memahami. Dalam konteks ini, sastra Absurd tidak menawarkan solusi, melainkan memotret dengan jujur kegagalan bahasa sebagai jembatan antar individu di dunia modern.
Eksplorasi Bawah Sadar dan Kebebasan Bentuk
Pada awal abad ke-20, gerakan Surréalisme menghadirkan estetika yang berpusat pada l’inconscient, yakni wilayah ketidaksadaran dan mimpi. Untuk membebaskan imajinasi dari kendali nalar, para penulis menggunakan teknik écriture automatique, yaitu menuliskan apa pun yang melintas di pikiran secara spontan tanpa penyaringan logika. Cara ini dimaksudkan agar bahasa mengalir langsung dari dorongan batin, bukan dari perhitungan rasional.
Eksperimen tidak berhenti pada isi, tetapi juga menyentuh bentuk fisik tulisan. Guillaume Apollinaire menghapus tanda baca dan menciptakan calligrammes, puisi visual yang susunan katanya membentuk objek tertentu. Pendekatan ini mudah dipahami melalui kecenderungan sastra modern yang memperlakukan teks sebagai ruang bermain, bukan sekadar alat menyampaikan makna. Dalam konteks Indonesia, semangat serupa tampak pada puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri, yang membebaskan kata dari fungsi makna baku dan menekankan bunyi serta visual sebagai pengalaman estetik tersendiri.
Estetika Permainan dan Batasan (Contraintes)
Di sisi lain, kelompok OuLiPo atau Ouvroir de Littérature Potentielle mengembangkan estetika yang bertumpu pada permainan logika dan batasan formal yang disengaja. Penulis seperti Georges Perec menciptakan karya dengan aturan yang sangat ketat, misalnya menulis novel La Disparition tanpa menggunakan huruf vokal “e”. Bagi kelompok ini, aturan bukanlah hambatan, melainkan pemicu lahirnya kemungkinan kreatif yang tidak terduga.
Cara berpikir ini mudah dipahami melalui pengalaman bermain dengan bentuk yang memiliki aturan jelas. Ketika ruang gerak dibatasi, imajinasi justru dipaksa bekerja lebih keras untuk menemukan solusi dan makna. Dengan demikian, kreativitas tidak lahir dari kebebasan tanpa arah, melainkan dari kecerdikan dalam mengolah batasan yang ada.
Referensi :
Materi pembelajaran dalam situs ini disusun melalui proses adaptasi dan sintesis akademik dengan merujuk pada sumber utama Bescherelle – Chronologie de la littérature française (Hatier, 2014), Littérature Progressive du Français (CLE International, 2013), dan Sastra Perancis dan Frankofon (Omera Pustaka, 2023), serta didukung oleh verifikasi data dari Larousse.fr ataupun Gallica (BnF).
Seluruh konten diproduksi secara mandiri untuk tujuan edukatif nonkomersial, tanpa melakukan terjemahan langsung maupun reproduksi teks sumber secara utuh. Pembaca dianjurkan untuk merujuk langsung pada sumber asli guna memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.
Photo : Rivage de Bohème, extrait de l’article « Le paysage aux 20? et 21? siècles », consulté sur https://www.rivagedeboheme.fr/pages/arts/art-du-paysage/le-paysage-aux-20e-et-21e-siecles.html
Author Representatif Periode