Du romantisme au symbolisme

Le XIXe siècle

Sejarah Sastra

Abad Revolusi dan Sastra yang Terlibat

Abad ke-19 di Prancis kerap disebut sebagai abad revolusi karena ditandai oleh ketidakstabilan politik yang berulang. Periode ini mencakup kejatuhan Napoleon Bonaparte pada 1815, Restorasi monarki, hingga rangkaian revolusi rakyat pada 1830, 1848, dan 1870 yang melahirkan Republik Ketiga. Getaran Revolusi Prancis 1789 masih terasa kuat sepanjang abad ini, memicu pertarungan antara kelompok yang ingin mempertahankan tradisi lama dan mereka yang memperjuangkan perubahan, kebebasan, serta demokrasi. Dalam suasana penuh gejolak tersebut, sastra tidak lagi berfungsi sebagai hiburan semata, melainkan tampil sebagai saksi sekaligus pelaku sejarah. Penulis seperti Victor Hugo dan Alphonse de Lamartine terlibat langsung dalam kehidupan politik dan menggunakan karya mereka untuk merespons perubahan zaman.

Keterlibatan sastrawan dalam pergolakan politik ini dapat dipahami melalui peran sastrawan Angkatan 45 atau penulis pada masa Reformasi di Indonesia, ketika tulisan menjadi sarana untuk menyuarakan aspirasi rakyat dan menentang ketidakadilan kekuasaan. Pada masa ini, panggung teater pun berubah menjadi ruang perdebatan publik yang panas. Hal tersebut tampak dalam pementasan Hernani, yang memicu pertentangan keras antara pendukung tradisi klasik dan kaum pembaru romantis, sekaligus menandai sastra sebagai arena konflik ideologis yang terbuka.

Dampak Industrialisasi dan Hegemoni Sains

Selain gejolak politik, Prancis abad ke-19 juga mengalami perubahan besar akibat revolusi industri dan kemajuan teknologi, seperti hadirnya kereta api dan mesin uap yang mengubah cara manusia memandang waktu dan ruang. Perubahan ini melahirkan positivisme, sebuah pandangan yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai sumber kebenaran objektif, menggantikan dominasi penjelasan religius. Cara berpikir ini memengaruhi sastra, di mana penulis seperti Honoré de Balzac berusaha memetakan tipe-tipe sosial masyarakat secara sistematis, seolah mengklasifikasikan gejala sosial, sementara Émile Zola menerapkan pendekatan eksperimental ke dalam penulisan novel.

Pergeseran menuju pemujaan pada data dan fakta ilmiah ini dapat dipahami melalui kecenderungan masyarakat modern yang menilai kehidupan berdasarkan ukuran efisiensi dan angka. Dalam konteks sastra, perubahan tersebut mendorong peralihan dari imajinasi emosional Romantisme menuju pengamatan yang lebih dingin dan terukur dalam Realisme dan Naturalisme, yang bertujuan membedah kondisi serta masalah sosial masyarakat modern.

Demokratisasi Literasi dan Ekspansi Pers

Abad ke-19 juga menandai langkah penting dalam demokratisasi pengetahuan melalui kebijakan pendidikan yang dikenal sebagai Hukum Jules Ferry. Undang-undang ini mewajibkan pendidikan yang gratis dan sekuler, sehingga tingkat melek huruf meningkat pesat. Dampaknya, sastra tidak lagi dikonsumsi oleh kalangan aristokrat semata, tetapi menjangkau kaum borjuis dan masyarakat pekerja. Perluasan pembaca ini dimanfaatkan oleh industri pers melalui penerbitan roman-feuilleton, yaitu cerita bersambung di surat kabar, yang melambungkan nama penulis seperti Alexandre Dumas dan Eugène Sue.

Fenomena ini mudah dikenali dalam pengalaman Indonesia, misalnya melalui popularitas cerita bersambung di koran dan majalah pada dekade 1980-1990-an, atau tren bacaan digital masa kini yang dinikmati secara berkala. Sastra menjadi konsumsi massal yang ditunggu-tunggu setiap terbitannya. Pada saat yang sama, penulis mulai hidup secara profesional dari karya mereka, meskipun harus berhadapan dengan tuntutan pasar dan strategi komersial yang mengubah cara sastra diproduksi dan dikonsumsi.

Kekecewaan Generasi dan Penemuan "Aku"

Di balik kemajuan materiil, awal abad ke-19 ditandai oleh perasaan le mal du siècle, atau penyakit abad ini, berupa melankolia dan kekecewaan mendalam yang dirasakan generasi muda pasca-Napoleon. Mereka merasa lahir terlambat di dunia yang dianggap telah menua, ketika impian heroik masa lalu runtuh dan digantikan oleh kehidupan borjuis yang dipandang datar dan materialistis. Kondisi ini mendorong penarikan diri ke dalam le moi, yaitu “aku”, sehingga perasaan pribadi, penderitaan batin, dan subjektivitas penulis menjadi pusat penciptaan sastra.

Keadaan psikologis ini dapat dipahami melalui perasaan galau atau krisis eksistensial yang kerap dialami generasi muda Indonesia masa kini, ketika individu merasa tertekan oleh tuntutan sosial dan kehilangan orientasi di tengah perubahan yang cepat. Dalam situasi tersebut, sastra berfungsi sebagai ruang pelarian sekaligus sarana refleksi untuk mengekspresikan ketidakpuasan terhadap tatanan dunia yang dirasakan tidak ideal.

Gerakan Sastra

Le Romantisme: Pembebasan "Aku" dan Imajinasi

Gerakan Romantisme mendominasi paruh pertama abad ke-19, sekitar 1820 hingga 1850, sebagai reaksi terhadap kekakuan Klasisisme dan kekecewaan pasca-Revolusi. Para penulis romantis menolak pembatasan emosi dan menempatkan le moi, atau diri sendiri, sebagai pusat penciptaan sastra. Mereka secara terbuka mengungkapkan le mal du siècle, yakni perasaan melankolia, penderitaan batin, dan ketidakpuasan terhadap realitas yang dianggap datar dan menekan.

Estetika Romantisme mengagungkan kebebasan, imajinasi, serta kedekatan dengan alam sebagai ruang pelarian spiritual. Victor Hugo tampil sebagai tokoh sentral gerakan ini dan dipandang sebagai poète mage, penyair yang memiliki misi moral untuk membimbing manusia menuju kebebasan dan kemajuan. Dalam konteks Indonesia, semangat ini sejalan dengan gerakan Pujangga Baru, ketika tokoh-tokoh seperti Sutan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah mulai melepaskan diri dari bentuk sastra lama untuk mengekspresikan perasaan individu secara lebih bebas dan personal.

Le Parnasse: Seni untuk Seni (L'Art pour l'Art)

Sebagai reaksi terhadap luapan perasaan personal Romantisme yang dianggap berlebihan, muncul gerakan Le Parnasse pada pertengahan abad ke-19. Kelompok ini, yang dipelopori oleh Théophile Gautier dan Leconte de Lisle, menolak fungsi sosial maupun moral sastra dan mengusung doktrin l’art pour l’art. Bagi mereka, keindahan merupakan tujuan akhir yang mutlak. Puisi dituntut bersifat objektif, tidak memihak, dan digarap dengan ketelitian teknis tinggi, layaknya pematung yang memahat marmer hingga mencapai bentuk sempurna.

Pendekatan ini dapat dipahami melalui perdebatan kebudayaan di Indonesia antara Lekra dan Manifes Kebudayaan. Dalam perdebatan tersebut, posisi Parnassian sejalan dengan pandangan yang menegaskan otonomi seni, bahwa karya sastra tidak semestinya dijadikan alat politik atau sekadar saluran emosi personal, melainkan berdiri atas nilai estetiknya sendiri.

Le Réalisme: Cermin Objektif Realitas

Antara tahun 1850 hingga 1870, gerakan Réalisme muncul sebagai reaksi terhadap idealisme Romantisme yang dianggap terlalu jauh dari kenyataan. Dipengaruhi oleh kemajuan sains dan fotografi, para penulis realis berupaya menggambarkan kehidupan apa adanya, tanpa pemanis moral maupun idealisasi. Dokumentasi dan observasi menjadi dasar penciptaan, sehingga novel dipahami sebagai cermin yang merefleksikan realitas sosial, termasuk aspek-aspek yang banal dan tidak nyaman.

Salah satu tokoh penting gerakan ini adalah Gustave Flaubert, yang melalui Madame Bovary menampilkan runtuhnya mimpi romantis dengan gaya penulisan yang dingin dan objektif. Pendekatan ini bahkan sempat menyeretnya ke pengadilan karena dinilai melanggar moral publik. Upaya memotret kehidupan masyarakat biasa tanpa hiasan estetik berlebihan ini dapat dipahami melalui tradisi sastra Indonesia yang menampilkan realitas sosial secara lugas, seperti karya-karya Mochtar Lubis atau novel-novel Balai Pustaka yang mulai mengangkat persoalan kehidupan masyarakat secara kritis.

Le Naturalisme: Sastra sebagai Laboratorium Sains

Gerakan Naturalisme pada rentang 1871 hingga 1893 merupakan kelanjutan logis dari Realisme yang melangkah lebih jauh dengan mengadopsi pendekatan ilmiah. Dipimpin oleh Émile Zola, naturalisme memandang manusia sebagai makhluk yang perilakunya ditentukan oleh l’hérédité, yaitu keturunan, dan le milieu, yakni lingkungan sosial. Dalam kerangka ini, novel diperlakukan sebagai semacam laboratorium, tempat penulis mengamati dan menguji perilaku tokoh-tokohnya untuk menjelaskan hukum-hukum yang mengatur kehidupan manusia.

Pandangan ini tampak jelas dalam siklus Les Rougon-Macquart, di mana Zola menelusuri kerusakan yang diwariskan dalam satu keluarga selama beberapa generasi. Cara pandang yang menekankan bahwa nasib manusia dibentuk oleh keturunan dan lingkungan ini memiliki kemiripan dengan konsep bibit, bebet, bobot dalam budaya Jawa. Namun, dalam naturalisme, gagasan tersebut diterapkan secara ketat dan deterministik untuk mengungkap penyakit sosial seperti kemiskinan, alkoholisme, dan pelacuran.

Le Symbolisme: Sugesti di Balik Realitas

Di penghujung abad ke-19, muncul gerakan Symbolisme yang secara resmi menandai kelahirannya pada tahun 1886. Gerakan ini hadir sebagai penolakan terhadap materialisme Naturalisme dan positivisme yang dianggap terlalu menekankan fakta lahiriah. Para penyair seperti Stéphane Mallarmé, Paul Verlaine, dan Arthur Rimbaud menolak deskripsi langsung yang dinilai kasar dan dangkal. Mereka memilih la suggestion, yaitu cara menyampaikan makna secara tidak langsung agar pembaca menangkap lapisan makna yang tersembunyi.

Bagi kaum simbolis, objek di dunia nyata tidak pernah berdiri sendiri, melainkan menjadi lambang bagi gagasan atau perasaan yang lebih dalam. Karena itu, mereka mengutamakan la musicalité bahasa dan membebaskan puisi dari aturan rima yang kaku melalui vers libre atau sajak bebas. Estetika yang bertumpu pada suasana, isyarat, dan kiasan ini dekat dengan cara berkomunikasi dalam budaya Indonesia, di mana makna sering disampaikan secara tersirat melalui simbol, sindiran halus, atau pasemon, bukan lewat pernyataan yang lugas dan langsung.

Teori / Ciri Estetika

Supremasi "Aku" dan Ekspresi Perasaan (Le Moi)

Estetika Romantisme menempatkan le moi, atau diri sendiri, sebagai pusat penciptaan sastra, menggantikan peniruan model klasik yang bersifat impersonal. Sastra menjadi ruang untuk mengungkapkan le mal du siècle, yakni perasaan melankolia, kekosongan jiwa, dan penderitaan batin yang mendalam. Penonjolan “aku” ini tidak dimaksudkan sebagai ekspresi narsistik semata, melainkan sebagai suara yang diyakini mewakili kegelisahan dan pertanyaan universal manusia.

Dalam konteks budaya populer Indonesia, kecenderungan ini dapat dipahami melalui popularitas lagu-lagu bertema galau atau puisi curahan hati. Pendengar merasa lirik lagu sedih berbicara atas perasaan mereka sendiri, sebagaimana pembaca Romantisme merasa terwakili oleh ungkapan kesepian dan cinta yang tak terpenuhi. Penyair seperti Alfred de Musset dan Alphonse de Lamartine menjadikan pengalaman pribadi yang intim sebagai bahan utama karya, sambil tetap mengarahkannya pada pengalaman emosional yang lebih luas.

Kebebasan Seni dan Penolakan Aturan Baku

Ciri paling radikal dari estetika Romantisme adalah tuntutan akan liberté dans l’art, yakni kebebasan dalam seni. Para romantis menolak aturan-aturan ketat warisan Klasisisme, termasuk aturan tiga kesatuan dalam teater yang dianggap membatasi daya cipta. Victor Hugo, melalui gagasan-gagasan romantisnya, menegaskan bahwa sastra harus bebas menentukan bentuk dan gaya sesuai dorongan inspirasi penulis, bukan tunduk pada pakem tradisi yang kaku.

Semangat ini dapat dipahami melalui pergeseran dalam sastra Indonesia dari pantun atau syair lama yang terikat rima dan struktur ketat menuju puisi bebas modern. Jika sastra lama menekankan kepatuhan pada aturan, estetika Romantisme merayakan kebebasan ekspresi. Perubahan semacam ini mudah dikenali dalam karya Chairil Anwar, yang menjadikan kebebasan bentuk sebagai sarana untuk mengekspresikan pengalaman batin secara lebih jujur dan langsung.

Estetika Kontras: Le Sublime et Le Grotesque

Victor Hugo mengajukan gagasan estetika Romantisme yang bertumpu pada teknik kontras atau antitesis. Menurutnya, seni hanya dapat menghadirkan kenyataan secara jujur jika mampu mempertemukan le sublime, yang indah dan agung, dengan le grotesque, yang buruk, aneh, atau mengganggu. Kehidupan tidak pernah sepenuhnya rapi dan harmonis, sehingga karya seni pun tidak seharusnya menampilkan keindahan yang steril. Yang luhur harus berdampingan dengan yang rendah, karena dari pertentangan itulah kenyataan manusia terlihat utuh.

Cara pandang ini mudah dipahami dalam pengalaman sehari-hari, ketika seseorang yang tampak kasar ternyata memiliki kepedulian yang tulus, atau sebaliknya, sosok yang terlihat rapi dan terhormat menyimpan sisi gelap. Dalam Notre-Dame de Paris, Hugo menampilkan kontras semacam ini melalui tokoh Quasimodo, yang secara fisik dipandang buruk namun memiliki hati yang murni. Pertemuan antara yang indah dan yang cacat inilah yang melahirkan keindahan tragis, sekaligus menegaskan bahwa kemanusiaan tidak dapat diukur dari penampilan luar semata

Alam sebagai Cermin Jiwa (La Nature)

Bagi kaum Romantis, alam atau la nature tidak diperlakukan sebagai latar dekoratif semata, melainkan sebagai ruang dialog dan tempat pelarian batin. Alam dipandang memiliki kepekaan yang seolah mampu memahami kegelisahan manusia. Ketika penyair merasa terasing dari masyarakat atau terluka oleh cinta, mereka mendekat pada hutan, danau, atau pegunungan untuk mencari ketenangan dan kejernihan perasaan.

Cara pandang ini mudah dikenali dalam pengalaman sehari-hari, ketika seseorang memilih menjauh sejenak dari hiruk-pikuk kota dan mencari keteduhan di alam terbuka saat sedang lelah atau tertekan. Alam menjadi ruang hening untuk memulihkan diri, bukan karena keindahannya semata, tetapi karena kemampuannya memberi jarak dari masalah dan membantu menata ulang perasaan yang kusut.

Eksotisme dan Pelarian Imajinatif

Estetika Romantisme juga ditandai oleh l’exotisme, yakni dorongan untuk melarikan diri dari kenyataan yang dirasa membosankan menuju ruang dan waktu lain. Para penulis romantis membayangkan tempat-tempat jauh atau masa lampau yang dianggap lebih indah dan bermakna, sehingga imajinasi menjadi sarana utama untuk keluar dari keterbatasan dunia sehari-hari.

Kecenderungan ini mudah dipahami melalui kebiasaan manusia modern yang mencari pelarian dari rutinitas lewat cerita, film, atau fantasi tentang kehidupan lain yang terasa lebih menarik. Dengan menjelajahi dunia yang jauh atau masa lalu yang diidealkan, sastra Romantis menawarkan ruang alternatif untuk bermimpi, mengolah harapan, dan meredakan kejenuhan terhadap realitas yang dianggap datar.

 



Referensi :
Materi pembelajaran dalam situs ini disusun melalui proses adaptasi dan sintesis akademik dengan merujuk pada sumber utama Bescherelle – Chronologie de la littérature française (Hatier, 2014), Littérature Progressive du Français (CLE International, 2013), dan Sastra Perancis dan Frankofon (Omera Pustaka, 2023), serta didukung oleh verifikasi data dari Larousse.fr ataupun Gallica (BnF).
Seluruh konten diproduksi secara mandiri untuk tujuan edukatif nonkomersial, tanpa melakukan terjemahan langsung maupun reproduksi teks sumber secara utuh. Pembaca dianjurkan untuk merujuk langsung pada sumber asli guna memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.
Photo : Bibliothèque nationale de France, extrait de l’album « Entre néoclassicisme et romantisme », dans Musiques romantiques, Essentiels BnF, consulté sur https://essentiels.bnf.fr/fr/arts/musique/828eaf75-e0e9-4a45-bc00-db863ac05e99-musiques-romantiques/album/b7e64b70-2f58-4942-8fac-c4ccd13bf10d-entre-neoclassicisme-et-romantisme

Author Representatif Periode

Victor Hugo
1802 - 1885

Charles Baudelaire
1821-1867

Gustave Flaubert
1821 - 1880