Molière (1622- 1673)
Siècle ClassiqueIdentitas Pengarang
Biografi Singkat
Terlahir dengan nama Jean-Baptiste Poquelin pada tahun 1622, Molière sejatinya dipersiapkan untuk meneruskan profesi ayahnya sebagai tapissier du roi (pembuat permadani raja). Namun, pada tahun 1644 ia memilih jalan teater dan mendirikan rombongan l’Illustre Théâtre bersama Madeleine Béjart, sekaligus mengadopsi nama panggung yang kelak melegenda.
Awal kariernya di Paris jauh dari gemilang. Kegagalan finansial membuatnya terlilit utang hingga sempat dipenjara. Dari kegagalan inilah Molière justru menempa dirinya melalui pengembaraan panjang berkeliling provinsi Prancis selama bertahun-tahun. Pengalaman panggung yang intens ini membentuk kepekaan komedinya sebelum ia kembali ke Paris pada tahun 1658 dan berhasil memperoleh perlindungan dari Monsieur, saudara raja, lalu dari Louis XIV sendiri yang sangat menggemari pertunjukan teater.
Akhir hidupnya kerap dikelilingi legenda. Molière wafat pada tahun 1673, beberapa jam setelah pingsan saat pementasan keempat lakon terakhirnya, Le Malade imaginaire. Meskipun sering disebut meninggal di atas panggung, kenyataannya ia menghembuskan nafas terakhir di rumahnya. Karena profesi aktor saat itu masih dipandang rendah dan dikucilkan oleh gereja, pemakamannya secara layak hanya dapat terlaksana berkat campur tangan langsung sang raja.
Kontribusi dalam Sastra
Molière merupakan tokoh sentral yang berhasil mengangkat derajat comédie (komedi), yang sebelumnya dipandang sebagai genre rendah, menjadi setara dengan tragédie (tragedi) dalam lanskap sastra abad ke-17. Melalui karyanya, ia menciptakan bentuk grande comédie (komedi besar) yang disusun dalam lima babak dan kerap ditulis dalam bentuk syair, memungkinkan komedi membahas persoalan-persoalan serius seperti pernikahan, kemunafikan agama, dan kebebasan moral tanpa kehilangan daya hiburnya.
Dalam praktik teaternya, Molière berpegang pada prinsip bahwa tujuan utama pertunjukan adalah menyenangkan publik luas, ce qui plaît au grand public, bukan semata-mata memuaskan selera kritikus atau kalangan terpelajar. Oleh karena itu, komedinya selalu berpijak pada kenyataan sosial yang mudah dikenali, dengan mengangkat tipe-tipe manusia yang tak lekang oleh waktu, seperti kaum agamis yang munafik, orang kikir, atau orang kaya yang berlagak bangsawan.
Ciri Gaya Penulisan
Gaya Molière memadukan elemen farce (lelucon kasar) warisan teater rakyat dan Commedia dell’arte Italia dengan kritik sosial yang tajam. Ia menjadikan tawa sebagai alat untuk mengoreksi mœurs (tata krama) zamannya, misalnya dengan mencemooh kepalsuan kaum précieuses, yaitu mereka yang memaksakan bahasa dan sikap terlalu halus hingga kehilangan kewajaran. Tujuan Molière bukan sekadar mengundang tawa, melainkan membuat les honnêtes gens (orang-orang budiman) menertawakan diri mereka sendiri melalui tipe-tipe sosial yang tampak konyol, namun sangat dekat dengan kenyataan. Melalui komedi, ia membela nilai le naturel (kealamiahan) dan menolak segala bentuk kepura-puraan, sikap dibuat-buat, serta ekstremitas perilaku yang menjauh dari akal sehat dan keseimbangan hidup sosial.Referensi :
Materi pembelajaran dalam situs ini disusun melalui proses adaptasi dan sintesis akademik dengan merujuk pada sumber utama Bescherelle – Chronologie de la littérature française (Hatier, 2014) dan Sastra Perancis dan Frankofon (Omera Pustaka, 2023), serta didukung oleh verifikasi data dari Larousse.fr ataupun Gallica (BnF).
Seluruh konten diproduksi secara mandiri untuk tujuan edukatif nonkomersial, tanpa melakukan terjemahan langsung maupun reproduksi teks sumber secara utuh. Pembaca dianjurkan untuk merujuk langsung pada sumber asli guna memperoleh pemahaman yang lebih mendalam.
Photo : reproduction du tableau Molière dans le rôle de César dans La Mort de Pompée, peint par Nicolas Mignard (huile sur toile), Musée Carnavalet, Paris, via Kunstkopie.